Jumat, 10 Desember 2010

Perbedaan Pengolahan Sampah di Amerika dan Jepang


Selama ini sampah selalu menjadi masalah bagi manusia. Sampah masih dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, tak bernilai ekonomis dan sangat menjijikkan. Jepang dan Amerika merupakan dua negara yang sangat maju. Di negara-negara maju sampah tidak lagi dianggap sesuatu yang tidak berguna. Sampah-sampah tersebut diolah menjadi sesuatu yang sangat berguna. Tapi, tahukah anda bila cara pengolahan sampah di kedua negara tersebut berbeda? Berikut perbedaannya:
ª     Pengangkutan Sampah
Di Amerika, pengolahan sampah diawali dengan datangnya dua unit mobil pengangkut sampah ke sebuah kompleks perumahan. Di mana di depan rumah-rumah tersebut telah ada dua unit tempat sampah besar, yang tertulis sampah organik dan sampah bukan organik. Satu unit mobil pengangkut sampah untuk mengangkut sampah-sampah basah. Sedang satu unit mobil sampah untuk mengangkut sampah-sampah non organik.
Perbedaannya dengan Jepang yaitu, jadwal pengangkutan sampah organik dan non organik tidak dilakukan pada hari yang sama. Selain itu, sampah di Jepang terbagi atas 3 jenis, yaitu :
1.     Sampah-sampah yang basah yang hanya berisi sampah sisa-sisa makanan, sisa-sisa potongan sayur-mayur dan sampah organik (seperti kertas-kertas, tissue, dos-dos kecil bekas sabun cuci, dsb).
2.    Sampah-sampah dari plastik, seperti kantong-kantong yang terbuat dari plastik, dan pet botol plastik
3.    Sampah-sampah yang terbuat dari kaca dan besi
ª     Lokasi Pabrik Pengolahan Sampah
Di Amerika usai pengangkutan dari rumah penduduk dilakukan, kedua unit mobil pengangkut sampah tersebut langsung menuju pabrik pengolahan sampah. Sampah organik menuju gerbang pengolahan sampah organik sedang sampah non-organik di bawa ke bagian gedung yang lain tetapi masih di dalam area yang sama.

Sedangkan di Jepang, pabrik pengolahan sampah rumah tangga, sampah yang terbuat dari plastik dan sampah yang terbuat dari kaca dan besi semua berada di tempat yang berbeda-beda. Pengangkutan pengambilan sampah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pun berbeda-beda. Masyarakat telah diberikan pengarahan oleh pemerintahan daerah masing-masing untuk memilah sampah-sampah tersebut dari rumah, sebelum di serahkan pada petugas sampah dengan kantong plastik sampah khusus yang berbeda-beda jenis pula.
ª     Kondisi di dalam Gudang Penyimpan Sampah.
Sesampainya unit mobil pengangkut sampah di pabrik, sampah masuk ke dalam sebuah gudang besar dan sampah-sampah tersebut di bongkar di sana, sehingga kita dapat melihat sampah bertumpuk-tumpuk di dalam gudang tersebut.
Kondisi ini berbeda dengan di Jepang, truk pengangkut sampah tersebut membongkar muatannya di dalam gudang, tetapi sampah tersebut langsung di masukkan ke dalam sebuah bak yang sangat besar dan kedalamannya bisa puluhan meter dari permukaan tanah.
ª     Pemilahan Sampah
Proses berikutnya, bila di Amerika sampah yang bertumpuk itu dengan alat berat lalu di bawa untuk ditumpahkan ke roller rel (spt biasa kita lihat di resto-resto Jepang yang menyediakan sushi). Di sana telah berdiri tenaga manusia untuk memilah-milah sampah tersebut. Sampah organik di biarkan lewat, tetapi sampah yang terbuat dari plastik atau benda yang tidak sengaja terbawa akan dipisahkan secara manual.
Sementara di Jepang, sampah yang telah masuk ke dalam bak besar tersebut, akan diaduk-aduk dengan mesin pengaduk yang super besar banget. Mesin-mesin sensor akan memilah sampah-sampah yang tak sengaja terbawa keluar dari bak besar itu. Bisa terlihat dengan jelas mesin sensor akan menarik keluar sampah seperti plastik, kaca bahkan besi yang masih tercampur dengan sampah organik sebelumnya.
ª     Pemrosesan Sampah
Selanjutnya, di Amerika sampah-sampah organik akan diproses dengan sebuah mesin menjadi butiran-butiran sampah seperti pasir. Hasil sampah ini akan di bawa dengan giant truck ke sebuah tempat padang pasir luas. Sampah-sampah organik ini akan dikubur, diberikan suatu zat sehingga sampah-sampah tersebut tidak akan dibongkar oleh binatang-binatang liar yang mungkin melintasi daerah tersebut, setelah itu baru di tutup dengan tanah. Sampah-sampah yang terkubur di tanah itu tetap akan mengeluarkan energi panas. Sehingga di tempat tersebut sering ada sebuah pabrik yang tugasnya mengolah energi panas yang dihasilkan oleh penimbunan sampah dapat dimanfaatkan.
Sementara di Jepang, sampah-sampah organik langsung menuju sebuah proses pembakaran sampah dengan suhu yang amat tinggi yang berada ratusan meter di bawah tanah di dalam pabrik tersebut. Hasil dari proses pembakaran sampah tersebut adalah berupa butiran-butiran yang mirip dengan pasir. Nah, butiran-butiran yang mirip pasir inilah yang akan di bawa ke sebuah pabrik untuk proses pembuatan paving block untuk walking area, rest area dan bahu-bahu jalan di Jepang. Butiran-butiran pasir ini jualah yang dimanfaatkan utnuk memperluas dataran Jepang, dengan sebuah tehnologi canggih, di mana tehnologi tersebut dapat membuat daratan baru di tengah-tengah laut. Contohnya: seperti lapangan udara yang ada di Osaka. Di mana bandara tersebut berada di tengah laut dengan daratan buatan. Juga bisa di lihat di banyak tepi laut di Jepang kegiatan proses pelebaran daratan ini. Sedang energi panas yang dihasilkan oleh pembakaran sampah jauh di dalam perut bumi itu langsung dijadikan sumber tenaga listrik untuk kebutuhan pabrik itu sendiri dan masyarakat di sekitar pabrik.
Sedangkan untuk pengolahan sampah non-organik, kedua negara tersebut melakukan proses yang kurang lebih sama. Di mana sampah non-organik tersebut setelah pembongkaran muatan, penyortiran maka sampah non organik dipisahkan berdasarkan jenisnya (kertas-kertas, kayu-kayu, plastik-plastik, kaca-kaca dan besi-besi). Setelah itu sampah-sampah yang telah tersortir berdasarkan kategorinya akan dipress dengan sebuah mesin khusu untuk bisa di bawa dengan mobil-mobil kontainer besar untuk di bawa ke pabrik lanjutan untuk proses daur ulang.
Oleh: Rizka Febriyanti (08303244025)

Cara Meminimalisir Sampah





Pola Pengelolaan Sampah sampai saat ini masih menganut paradigma lama dimana sampah masih dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, tak bernilai ekonomis dan sangat menjijikkan. Masyarakat sebagai sumber sampah tak pernah menyadari bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah yang dihasilkan menjadi tanggung jawab dirinya sendiri.
Apabila sampah - sampah yang luar biasa ini mulai menjadi masalah bagi manusia, barulah manusia menyadari ketidak perduliannya selama ini terhadap sampah dan mulai menimbulkan kepanikan dan menghantui di mana - mana tanpa tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia, karena setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram sampah, dengan komposisi, 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah.
Sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang di buang ke tempat sampah walaupun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri, tetapi merupakan sampah yang selalu menjadi bahan pemikiran bagi manusia.

PENANGGULANGAN SAMPAH
Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian dalam menanggulangi sampah misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R (WALHI, 2004) yaitu:
§      Reduce (Mengurangi)
Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
§      Reuse (Memakai kembali)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
§      Recycle (Mendaur ulang)
Sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
§      Replace ( Mengganti)
Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih   ramah lingkungan. Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.
Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
Oleh: Rizka Febriyanti (083032144025)

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH (PLTSa)



Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup  60-70% dari total volume sampah. Selama ini pengelolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat, di buang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur.

Seharusnya  sebelum sampah dibuang dilakukan pengelompokkan sampah berdasarkan jenis dan wujudnya sehingga mudah untuk didaur ulang dan/atau dimanfaatkan (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas). Untuk tiap bahan disediakan bak sampah tersendiri, ada bak sampah plastik, bak gelas, bak logam, dan bak untuk kertas. Pemilahan sampah itu dimulai dari tingkat RT(Rumah tangga), pasar dan aparteme. Bila kesulitan dalam memilih sampah tersebut minimal sampah dipisahkan antara sampah basah (mudah membusuk) dan sampah kering (plastik,kaleng dan lain-lain)
Pemerintah sendiri menyediakan mobil-mobil pengumpul sampah yang sudah terpilah sesuai dengan pengelompokkannya. Pemerintah bertanggung jawab mengorganisasi pengumpulan sampah itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang. Sisa sampahnya bisa diolah dengan cara penumpukan (dibiarkan membusuk), pengkomposan (dibuat pupuk), pembakaran. Dari ketiga cara pengelolaan sampah basah yang biasa dilakukan dibutuhkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang cukup luas. Selain itu efek yang kurang baikpun sering terjadi seperti pencemaran lingkungan, sumber bibit penyakit ataupun terjadinya longsor.
Selain dengan cara pengelolaan tersebut di atas ada cara lain yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung yaitu sampah dimanfaatkan menjadi sumber energi listrik (Waste to Energy) atau yang lebih dikenal dengan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).
Konsep Pengolahan Sampah menjadi Energi (Waste to Energy) atau PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga sampah) secara ringkas (TRIBUN, 2007) adalah sebagai berikut :
1.     Pemilahan sampah
Sampah dipilah untuk memanfaatkan sampah yang masih dapat di daur ulang. Sisa sampah dimasukkan kedalam tungku Insinerator untuk dibakar.
2.    Pembakaran sampah
Pembakaran sampah menggunakan teknologi pembakaran yang memungkinkan berjalan efektif dan aman bagi lingkungan. Suhu pembakaran dipertahankan dalam derajat pembakaran yang tinggi (di atas 1300°C). Asap yang keluar dari pembakaran juga dikendalikan untuk dapat sesuai dengan standar baku mutu emisi gas buang.
3.     Pemanfaatan panas
Hasil pembakaran sampah akan menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk memanaskan boiler. Uap panas yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin dan selanjutnya menggerakkan generator listrik.
4.    Pemanfaatan abu sisa pembakaran
Sisa dari proses pembakaran sampah adalah abu. Volume dan berat abu yang dihasilkan diperkirakan hanya kurang 5% dari berat atau volume sampah semula sebelum di bakar. Abu ini akan dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku batako atau bahan bangunan lainnya setelah diproses dan memiliki kualitas sesuai dengan bahan bangunan.
Dikota-kota besar di Eropa, Amerika, Jepang, Belanda, dll waste energy sudah dilakukan sejak berpuluh tahun lalu, dan hasilnya diakui lebih dapat menyelesaikan masalah sampah. Pencemaran dari PLTSa yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat sebenarnya sudah dapat diantisipasi oleh negara yang telah menggunakan PLTSa terlebih dahulu. Pencemaran- pencemaran tersebut seperti :
1.     Dioxin
Dioxin adalah senyawa organik berbahaya yang merupakan hasil sampingan dari sintesa kimia pada proses pembakaran zat organik yang bercampur dengan bahan yang mengandung unsur halogen pada temperatur tinggi, misalnya plastic pada sampah, dapat menghasilkan dioksin pada temperatur yang relatif rendah seperti pembakaran di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) (Shocib, Rosita, 2005).
PLTSa sudah dilengkapi dengan sistem pengolahan emisi dan efluen, sehingga polutan yang dikeluarkan berada di bawah baku mutu yang berlaku di Indonesia, dan tidak mencemari lingkungan.
2.    Residu
Hasil dari pembakaran sampah yang lainnya adalah berupa residu atau abu bawah  (bottom ash)   dan abu terbang (fly ash) yang termasuk limbah B3, namun hasil-hasil studi dan pengujian untuk pemanfaatan abu PLTSa sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. Di Singapura saat ini digunakan untuk membuat pulau, dan pada tahun 2029 Singapura akan memiliki sebuah pulau baru seluas 350 Ha (Pasek, Ari Darmawan, 2007). PLTSa akan memanfaatkan abu tersebut sebagai bahan baku batako atau bahan bangunan.
3.    Bau
Setiap sampah yang belum mengalami proses akan mengeluarkan bau yang tidak sedap baik saat pengangkutan maupun penumpukkan dan akan mengganggu kenyamanan bagi masyarakat umum.
Untuk menghindari bau yang berasal dari sampah akan dibuat jalan tersendiri ke lokasi PLTSa melalui jalan Tol, di sekeliling bagunan PLTSa akan ditanami pohon sehingga membentuk greenbelt (sabuk hijau) seluas 7 hektar.

Oleh: Rizka Febriyanti (o8303244025)

Tanaman Apa yang Mampu Mengurangi Efek Pemanasan Global?


Pemanasan global yang kian marak dapat dikurangi dengan peningkatan jumlah tanaman di lingkungan sekitar. Tak hanya di lahan khusus area hijau yang dapat ditanami tanaman. Halaman rumah Anda juga mampu berperan untuk mengurangi pemanasan global.
Beberapa tanaman berfungsi mengendalikan pencemaran udara. Namun, tanaman apa saja yang mampu mengurangi efek pemanasan global secara tak langsung? Berikut jenis tanaman yang dapat ditanam di rumah:
  1. Pengendalian pencemaran debu dapat dilakukan dengan menanam tanaman perdu dan semak seperti, bougenville, bunga merak, dan daun kupu-kupu.
  2. Pencemaran NO2 di sekitar lingkungan rumah dapat direduksi dengan penanaman kaktus
  3. Penyaringan udara dapat dilakukan dengan menanam rumput krinil (krokot), sri mukti (sri rejeki), dan maranta. Jika Anda menanam cukup rapat dapat digunakan sebagai penyaring udara di depan jendela kamar tidur.
  4. Rumah bertingkat disarankan memilih tanaman seperti semak yang tahan terpaan angin, tahan panas, memerlukan sedikit air, contohnya palem.
  5. Jika rumah Anda berhadapan langsung dengan jalan, Anda dapat menanam tanaman perdu seperti, kembang sepatu, puring, sablo, soka, dan Mussaenda. Tanaman perdu mampu menyerap NOX 22,53% – 54,08%, tanaman semak 16,13% – 55,60%, dan tanaman pepohonan 14,15% – 60,65%.
  6. Anda dapat menggunakan tanaman sebagai pagar hijau. Tanaman yang cocok dijadikan pagar hijau adalah tanaman teh-tehan dan bambu. Tanaman ini mampu menyerap debu dalam jumlah yang tinggi.
  7. Jika Anda memiliki area tanah di luar pagar halaman, Anda dapat menanam asam kranji atau tiara payung. Selain menciptakan keteduhan, tanaman ini mampu mereduksi kadar NO2, SO2, dan CO.
Sumber:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum
Oleh :
Rizka Febriyanti (08303244025)

Pencemaran Udara


Pencemaran Udara
 Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat mengganggu kehidupan manusia. Bila keadaan seperti itu terjadi maka udara dikatakan telah tercemar
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran udara, yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuknya atau dimaksuknya zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegiatan manusia sehingga mutu udara ambient turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambient tidak memenuhi fungsinya.
Sumber Pencemar Udara

Telah disadari bersama, kualitas udara saat ini telah menjadi persoalan global, karena. Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan. Namun udara telah tercemar akibat aktivitas manusia dan proses alam. Meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri telah  menyebabkan kualitas udara mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar kini kering dan kotor. Hal ini bila tidak segera ditanggulangi, perubahan tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, kehidupan hewan serta tumbuhan
Masuknya zat pencemar ke dalam udara dapat secara alamiah, misalnya asap kebakaran hutan, akibat gunung berapi, debu meteorit dan pancaran garam dari laut ; juga sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya akibat aktivitas transportasi, industri, pembuangan sampah, baik akibat proses dekomposisi ataupun pembakaran serta kegiatan rumah tangga.
Terdapat 2 jenis pencemar  yaitu sebagai berikut :
1.      Zat pencemar primer
Yaitu, zat kimia yang langsung mengkontaminasi udara dalam konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut bersal dari komponen udara alamiah seperti karbon dioksida, yang meningkat diatas konsentrasi normal, atau sesuatu yang tidak biasanya, ditemukan dalam udara, misalnya timbal.
2.       Zat pencemar sekunder
Yaitu, zat kimia berbahaya yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia antar komponen-komponen udara.
Sumber bahan pencemar primer dapat dibagi lagi menjadi dua golongan besar :
a.      Sumber alamiah
Beberapa kegiatan alam yang bisa menyebabkan pencemaran udara adalah kegiatan gunung berapi, kebakaran hutan, kegiatan mikroorganisme, dan lain-lain. Bahan pencemar yang dihasilkan umumnya adalah asap, gas-gas, dan debu.
b.      Sumber buatan manusia.
Kegiatan manusia yang menghasilkan bahan-bahan pencemar bermacam-macam antara lain adalah kegiatan-kegiatan berikut :
ü    Pembakaran
Seperti: pembakaran sampah, pembakaran pada kegiatan rumah tangga, industri, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang dihasilkan antara lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO).
ü    Proses peleburan
Seperti: proses peleburan baja, pembuatan soda,semen, keramik, aspal. Sedangkan bahan pencemar yang dihasilkannya antara lain adalah debu, uap dan gas-gas.
ü    Pertambangan dan penggalian
Seperti tambang mineral and logam. Bahan pencemar yang dihasilkan terutama adalah debu.
ü    Proses pengolahan dan pemanasan
Seperti pada proses pengolahan makanan, daging, ikan, dan penyamakan. Bahan pencemar yang dihasilkan terutama asap, debu, dan bau.
ü    Pembuangan limbah
Seperti: limbah industri dan limbah rumah tangga. Pencemarannya terutama adalah dari instalasi pengolahan air buangannya. Sedangkan bahan pencemarnya yang teruatama adalah gas H2S yang menimbulkan bau busuk.
ü    Proses kimia
Seperti pada proses fertilisasi, proses pemurnian minyak bumi, proses pengolahan mineral. Pembuatan keris, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang dihasilkan antara lain adalah debu, uap dan gas-gas
ü    Proses pembangunan
Seperti pembangunan gedung-gedung, jalan dan kegiatan yang semacamnya. Bahan pencemarnya yang terutama adalah asap dan debu.
ü    Proses percobaan atom atau nuklir.
Bahan pencemarnya yang terutama adalah gas-gas dan debu radioaktif.
Jenis Bahan Pencemar Udara
Ada beberapa bahan pencemar udara yang sering ditemukan di kota-kota. Dilihat dari ciri fisik, bahan pencemar dapat berupa :
1.       Partikel
Seperti: debu, aerosol, timah hitam
2.      Gas
3.      Energi
Seperti: suhu dan kebisingan
Sumber:
Soedomo, Pencemaran Udara, Kumpulan Karya Ilmiah, Institut Teknologi Bandung, 2000.
Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan, 2001

Oleh:
Rizka Febriyanti (08303244025)

Tahukah Anda Bahwa Limbah Plastik Dapat Terurai di Dalam Laut?



Limbah plastik dapat terurai di dalam laut dan membahayakan makhluk hidup di air (Foto: AFP)

Sejak dahulu, para pengamat lingkungan telah menyebutkan bahwa limbah plastik tidak dapat terurai. Namun, hasil studi baru di Washington, Amerika, mengindikasikan bahwa limbah plastik dapat terurai di dalam lautan. Waow, sebuah temuan yang hebat! Tetapi, para ahli juga mengatakan bahwa hasil temuan itu bukanlah sesuatu hal yang baik, karena plastik yang terurai dalam lautan tentunya akan meracuni dan mencemari habitat laut.

Setiap tahunnya laut menampung ribuan ton limbah plastik yang terapung di permukaan dan juga yang telah tenggelam. Sebagian dari limbah tersebut, ada yang terseret arus hingga ke Great Pacific Garbage Patch antara California dan Hawaii. Sampah yang terkumpul sangat banyak jumlahnya, area pengumpulan sampah ini bahkan dikatakan lebih besar dari wilayah Texas.

"Limbah plastik rumah tangga dan industri umumnya diasumsikan memiliki sifat yang tidak mudah terurai," kata ahli kimia dari Nihon University, Jepang, Katsuhiko Saido yang dikutip dari Times of India, Kamis (20/8/2009).

"Kami menemukan bahwa plastik sebenarnya dapat terurai di dalam laut akibat terpapar matahari, hujan, dan keadaan lingkungan lainnya," tambahnya.

Saido mengatakan, penemuan bukan sebuah kabar gembira, melainkan informasi baru mengenai sumber polusi global yang terus meningkat di masa yang akan datang. Dalam jurnal ilmiah American Chemical Society, Saido menuliskan laporan yang menyebutkan, plastik yang terurai melepaskan senyawa racun seperti bisphenol A dan PS oligomer yang akan merusak fungsi hormon pada makhluk hidup laut, sehingga akan membahayakan kehidupan laut.

Sumber: http://techno.okezone.com/read/2009/08/20/56/249778/limbah-plastik-dapat-terurai-di-dalam-laut
Oleh: Rizka Febriyanti (08303244025)